![]() |
| (Foto : Asbar Bilu, Ketua Pendiri Karaengta Kota Baubau sekaligus Sekretaris Karaengta Kota Baubau sampai saat ini 27 September 2023) |
KARAENGTA NEWS, Kota Baubau - Prosesi pernikahan suku Makassar di Karaengta Kota Baubau. Sama seperti halnya suku-suku yang ada di Indonesia, suku Makassar juga tentu punya adat istiadat serta budaya yang dilakukan dalam tahapan untuk proses pernikahan. Berikut beberapa tahapan yang ada dalam proses pernikahan Makassar. Rabu (27 / 9 / 2023)
1. A’jangang-jangang
Mencari tahu atau penyelidikan secara diam-diam oleh pihak calon mempelai pria untuk mengetahui latar belakang pihak calon mempelai wanita.
Tahapan pertama dalam prosesi pernikahan suku Makassar yang disebut "A’jangang-jangang" adalah tentang mencari tahu atau penyelidikan secara diam-diam oleh pihak calon mempelai pria untuk mengetahui latar belakang pihak calon mempelai wanita.
Ini merupakan langkah awal dalam proses pernikahan di mana keluarga calon mempelai pria melakukan pengumpulan informasi mengenai keluarga calon mempelai wanita.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa mereka memiliki informasi yang cukup sebelum melanjutkan ke tahap-tahap selanjutnya dalam prosesi pernikahan seperti Menyimpan Pesan (Ammoli Kana) dan pinangan resmi (A'suro/A'boya)
2. Ammoli Kana
Proses setelah mendapat kepastian informasi cukup tentang latar belakang calon mempelai wanita masih berstatus lajang atau belum ada ikatan maka dilanjutkan dengan tahap menyimpan pesan (Ammoli Kana) sebelum melanjutkan ke tahap-tahap selanjutnya dalam prosesi pernikahan seperti pinangan resmi (A'suro/A'boya).
3. A’suro / A'boya
Acara ini merupakan pinangan (melamar) secara resmi pihak calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita.
Tahapan kedua dalam prosesi pernikahan suku Makassar yang disebut "A'suro" atau "A'boya" adalah pinangan atau lamaran secara resmi yang dilakukan oleh pihak calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita. Ini adalah tahap di mana keluarga calon mempelai pria secara formal menyatakan niat untuk menikahi calon mempelai wanita kepada keluarganya.
Biasanya, dalam upacara A'suro atau A'boya, pihak keluarga calon mempelai pria akan datang ke rumah calon mempelai wanita dengan membawa hadiah atau seserahan sebagai tanda keseriusan dalam permintaan pernikahan.
Jika permintaan ini diterima oleh keluarga calon mempelai wanita, maka mereka akan melanjutkan ke tahap-tahap berikutnya dalam persiapan pernikahan, seperti menentukan tanggal pernikahan (A’pa’nassa) dan berbagai aspek lainnya yang terkait dengan pernikahan tradisional suku Makassar.
4. A’pa’nassa
Ada usai acara pinangan, dilakukan appa’nasa yaitu menentukan hari pernikahan. Selain penentuan hari pernikahan, juga disepakati besarnya mas kawin dan uang belanja.
Tahapan ketiga dalam prosesi pernikahan suku Makassar yang disebut "A’pa’nassa" adalah penentuan hari pernikahan. Setelah tahap pinangan resmi (A'suro/A'boya) diterima oleh keluarga calon mempelai wanita, maka selanjutnya pihak keluarga dari kedua belah pihak akan bersama-sama menentukan tanggal atau hari yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.
Selain penentuan tanggal, dalam tahapan A’pa’nassa ini juga disepakati besarnya mas kawin (uang atau harta yang akan diberikan oleh pihak keluarga mempelai pria kepada keluarga calon mempelai wanita) dan juga anggaran atau uang yang akan digunakan untuk keperluan pernikahan, seperti pesta dan upacara-upacara lainnya.
Proses penentuan hari pernikahan ini memiliki pentingnya sendiri dalam budaya suku Makassar karena tanggal pernikahan dianggap sebagai faktor yang akan memengaruhi kesuksesan pernikahan dan kebahagiaan kedua mempelai di masa depan.
5. A’panai Leko’ Ca'di
Disebut juga sirih pinang, setelah pinangan diterima secara resmi, maka dilakukan pertunangan yang disebut A’bayuang yaitu ketika pihak keluarga lelaki mengantarkan passiko.
Ini adalah prosesi pihak calon pengantin pria mengunjungi rumah calon pengantin wanita untuk meminta izin kepada keluarganya. Prosesi ini umumnya dilakukan untuk mengantar Passikko, Uang panai, Beras, Sapi/Kerbau/Kuda, Kayu dan lainnya sesuai kesepakatan sehubungan yang dimakan api.
Merupakan bagian penting dalam tradisi pernikahan di Makassar, yang melibatkan interaksi antara keluarga calon pengantin dan menandai awal dari persiapan pernikahan mereka.
Tahap pertunangan ini menandai keseriusan dan persetujuan kedua keluarga terhadap pernikahan, dan setelahnya, persiapan lebih lanjut untuk pernikahan akan dilakukan, seperti acara mandi uap (A'barumbung) dan tahapan-tahapan lainnya dalam prosesi pernikahan Makassar.
6. A’barumbung
Acara mandi uap yang dilakukan oleh calon mempelai wanita. Biasanya dilakukan selama 3 hari.
Tahapan "A’barumbung" dalam prosesi pernikahan suku Makassar adalah acara mandi uap yang dilakukan oleh calon mempelai wanita. Ini adalah salah satu tahap penting dalam prosesi pernikahan Makassar dan biasanya dilakukan selama 3 hari.
Selama tahapan A’barumbung, calon mempelai wanita akan mandi uap dengan menggunakan campuran bahan-bahan tradisional yang memiliki makna dan simbolisme khusus dalam budaya Makassar. Acara ini bukan hanya sekadar membersihkan tubuh, tetapi juga melambangkan persiapan fisik dan spiritual calon mempelai wanita untuk memasuki fase pernikahan yang baru.
Keluarga dan sahabat-sahabat calon mempelai wanita biasanya ikut serta dalam tahapan ini untuk memberikan dukungan dan merayakan persiapan pernikahan. A’barumbung adalah salah satu momen penting dalam pernikahan suku Makassar yang dipandang sebagai proses pemurnian dan persiapan spiritual sebelum akad nikah (Assimorong) dan perayaan pernikahan berikutnya.
7. Appassili Bunting dan A’bubbu’
Sebelum acara ini dilakukan, keluarga calon mempelai wanita membuatkan tempat khusus berupa gubuk siraman yang telah ditata sedemikian rupa di depan rumah atau pada tempat yang telah disepakati bersama oleh anggota keluarga.
Tahapan "Appassili Bunting" dan "A'bubbu'" dalam prosesi pernikahan suku Makassar adalah tahapan yang melibatkan persiapan fisik dan perayaan dalam rangkaian pernikahan.
a. Appassili Bunting: Pada tahap ini, keluarga calon mempelai wanita akan membuat tempat khusus berupa gubuk siraman yang telah ditata dengan rapi di depan rumah atau pada lokasi yang telah disepakati bersama oleh anggota keluarga. Gubuk siraman ini akan digunakan untuk upacara selanjutnya.
b. A'bubbu': Tahapan ini melibatkan proses memberikan makanan kepada calon mempelai. Pihak keluarga calon mempelai pria akan menyiapkan berbagai jenis kue-kue khas tradisional Bugis-Makassar, seperti Bayao nibalu, Cucuru’ bayao, Sirikaya, Onde-onde/Umba-umba, Bolu peca, dan lain-lain. Makanan-makanan ini akan ditempatkan dalam suatu wadah besar yang disebut "bosara lompo."
A'bubbu' adalah momen di mana makanan tersebut akan disajikan kepada calon mempelai wanita, dan acara ini sering kali diiringi dengan musik dan tarian tradisional. Ini adalah salah satu upacara yang melibatkan kegembiraan dan perayaan sebelum Akkorongtigi (Malam Pacar).
8. Akkorontigi atau Malam Pacar
Upacara ini merupakan ritual pemakaian daun pacar ke tangan si calon mempelai. Daun pacar memiliki sifat magis dan melambangkan kesucian.
Tahapan "Akkorontigi" atau "Mappaccing," yang juga dikenal sebagai "Malam Pacar," adalah salah satu upacara penting dalam prosesi pernikahan suku Makassar. Ini merupakan ritual pemakaian daun pacar ke tangan si calon mempelai wanita.
Selama Akkorontigi atau Malam Pacar, calon mempelai wanita akan diberi tahu tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Daun pacar yang digunakan dalam upacara ini memiliki sifat magis dan melambangkan kesucian serta komitmen dalam pernikahan. Pemakaian daun pacar ini adalah simbol bahwa calon mempelai wanita telah bersedia menerima peran dan tanggung jawabnya dalam pernikahan.
Upacara Akkorontigi atau Malam Pacar biasanya dilakukan dengan khidmat dan dihadiri oleh anggota keluarga serta tetua adat suku Makassar. Ini adalah momen sakral yang menggambarkan persiapan calon mempelai wanita dalam menjalani pernikahan dan menghormati tradisi serta adat istiadat suku Makassar. Setelah Akkorontigi, pernikahan akan melanjutkan dengan tahapan berikutnya, yaitu Assimorong (akad nikah).
9. Appakanre bunting Tahap Pertama
Appakanre bunting artinya menyuapi calon mempelai dengan makan berupa kue-kue khas tradisional Makassar, seperti Bayao nipallu, Cucuru’ bayao, Sirikaya, Onde-onde/Umba-umba, Bolu peca, dan lain-lain yang telah disiapkan dan ditempatkan dalam suatu wadah besar yang disebut bosara lompo.
Tahapan "Appakanre Bunting" dalam prosesi pernikahan suku Makassar dilakukan di rumah calon mempelai masing-masing setelah Prosesi Akkorongtigi selesai. Ini untuk tahap pertama Appakanre Bunting dilakukan karena masih ada tahap kedua Appakanre Bunting setelah selesai Akad Nikah dilakukan dengan melibatkan kedua mempelai.
Selama tahapan Appakanre Bunting, calon mempelai pria maupun calon mempelai Wanita di rumah masing-masing akan diantar ke kamar calon mempelai. Ini adalah momen penting untuk menjaga kesehatan dan stamina calon pengantin.
Ini adalah salah satu tahapan dalam prosesi pernikahan Makassar sebelum berlanjut ke acara-acara berikutnya, seperti Appanai Leko' Lompo (Membawa Mahar).
10. A’panai Leko’ Lompo
Tahapan "A’panai Leko’ Lompo" dalam prosesi pernikahan suku Makassar adalah tahap pertunangan atau sirih pinang. Setelah pinangan (A'suro/A'boya) dam Appanai Leko Ca'di (Pengantaran uang panai) diterima secara resmi oleh keluarga calon mempelai wanita, maka dilakukan tahapan ini.
Pihak keluarga calon mempelai pria akan mengantarkan ke rumah calon mempelai wanita Mahar (Emas, Sebidang tanah sawah, Kebun, Perlengkapan Sholat/perangkat Sholat) termasuk kebutuhan lainnya sesuai kesepakatan.
Biasanya, ini termasuk pakaian adat, perhiasan, Tempat tidur, Lemari dan berbagai barang yang diperlukan untuk pernikahan. Proses ini juga bisa melibatkan berbagai upacara kecil dan ritual yang mengikuti tradisi suku Makassar.
Tahap Appanai Leko Lompo ini biasanya dilakukan secara terpisah / sebelum tahapan Assimorong namun ada juga yang bahkan secara bersamaan dengan tahap prosesi Assimorong, hal ini sesuai kesepakatan kedua belah pihak keluarga.
10. Assimorong
Acara ini merupakan acara akad nikah dan menjadi puncak dari rangkaian upacara pernikahan adat Makassar.
Tahapan "Assimorong" dalam prosesi pernikahan suku Makassar adalah tahap mengantar calon pengantin Pria ke rumah calon Pengantin wanita dan setelah tiba di sekitar rumah calon pengantin Wanita biasanya dilakukan pemanggilan calon pengantin dengan Prosesi adat (Akkio' Bunting), setelah itu calon pengantin Pria dan pengantarnya dipersilahkan masuk kedalam rumah calon pengantin wanita untuk mengikuti proses akad nikah dan merupakan puncak dari seluruh rangkaian upacara pernikahan adat Makassar.
Pada tahap Assimorong, calon mempelai pria dan calon mempelai wanita akan secara resmi dan sah menjalani upacara pernikahan di hadapan seorang pemuka agama atau sesepuh adat yang bertindak sebagai penghulu. Di sini, keduanya akan saling berjanji untuk menjadi suami dan istri, serta mengikuti serangkaian tata cara dan ritual pernikahan yang telah ditetapkan oleh adat Makassar.
Tahap Assimorong ini memiliki makna sakral dan hukum dalam budaya suku Makassar. Setelah selesai, calon mempelai pria dan calon mempelai wanita akan dianggap sebagai pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama. Setelah pernikahan sah, mereka akan melanjutkan dengan tahap-tahap berikutnya dalam prosesi pernikahan suku Makassar, seperti "Appabattu Nikkah" (Prosesi pengantin laki-laki yang secara sah sudah melalui proses Nikah dan selanjutnya menuju kamar pengantin wanita di kamarnya), "Appa’bajikang Bunting" (prosesi menyatukan kedua mempelai).
11. Appa’bajikang Bunting
Prosesi ini merupakan prosesi menyatukan kedua mempelai. Setelah akad nikah selesai, mempelai pria diantar ke kamar mempelai wanita untuk Appabattu Nikkah maka proses ini dilanjutkan Appa'bajikang Bunting.
Tahapan "Appa’bajikang Bunting" dalam prosesi pernikahan suku Makassar adalah prosesi yang mengikutkan calon mempelai pria untuk diantarkan ke kamar calon mempelai wanita setelah akad nikah (Assimorong) selesai. Ini adalah tahapan yang melibatkan peran penting dari keluarga dan sahabat-sahabat calon mempelai.
Dalam Appa’bajikang Bunting, calon mempelai pria akan diiringkan oleh keluarganya atau orang-orang terdekatnya menuju kamar calon mempelai wanita. Ini adalah momen penting yang menunjukkan bahwa pasangan suami istri resmi memasuki fase baru dalam kehidupan mereka bersama.
Tahapan ini sering kali disertai dengan berbagai adat dan tradisi khusus suku Makassar, dan kadang-kadang juga diiringi dengan tarian dan musik tradisional sebagai bagian dari perayaan pernikahan. Setelah tahapan Appa’bajikang Bunting selesai, pernikahan akan melanjutkan dengan acara Allekka’ Bunting dan perayaan pernikahan yang lebih besar bersama keluarga dan tamu undangan.
12. Appakanre bunting Tahap ke dua
Appakanre bunting artinya menyuapi calon mempelai dengan makan berupa kue-kue khas tradisional Makassar, seperti Bayao nipallu, Cucuru’ bayao, Sirikaya, Onde-onde/Umba-umba, Bolu peca, dan lain-lain yang telah disiapkan dan ditempatkan dalam suatu wadah besar yang disebut bosara lompo.
Tahapan "Appakanre Bunting" dalam prosesi pernikahan suku Makassar dilakukan di rumah calon mempelai wanita setelah Prosesi Akad Nikah selesai. Ini untuk tahap kedua Appakanre Bunting dilakukan dengan melibatkan kedua mempelai dan diantarkan kedalam kamar mempelai Wanita.
Selama tahapan Appakanre Bunting, calon mempelai pria sudah berada di dalam kamar mempelai wanita. Ini adalah momen penting yang menandakan penyatuan kedua mempelai dalam ikatan pernikahan. Prosesi ini biasanya disertai dengan adat dan tradisi khusus suku Makassar yang mencerminkan kesepakatan keluarga dan komitmen kedua mempelai.
Appakanre Bunting menunjukkan bahwa pernikahan telah resmi dilakukan, dan kedua mempelai akan melanjutkan hidup bersama sebagai pasangan suami istri. Ini adalah salah satu tahapan akhir dalam prosesi pernikahan Makassar sebelum berlanjut ke acara-acara berikutnya, seperti Allekka’ Bunting dan A'matoang.
13. Allekka’ Bunting
Acara ini sering disebut sebagai acara ngunduh mantu. Sehari sesudah pesta pernikahan, mempelai wanita ditemani beberapa orang anggota keluarga diantar ke rumah orang tua mempelai pria.
Tahapan "Allekka’ Bunting" dalam prosesi pernikahan suku Makassar adalah acara yang sering disebut sebagai "acara ngunduh mantu." Ini biasanya dilakukan sehari setelah pesta pernikahan utama.
Pada tahap Allekka’ Bunting, calon mempelai wanita akan ditemani oleh beberapa anggota keluarganya ketika dia diantar ke rumah orang tua calon mempelai pria. Ini adalah momen penting yang menandakan bahwa calon mempelai wanita akan menjadi anggota resmi dari keluarga calon mempelai pria.
Prosesi ini sering diiringi dengan berbagai upacara dan tradisi, serta mungkin disertai dengan perayaan dan pesta kecil. Allekka’ Bunting adalah salah satu cara bagi keluarga kedua mempelai untuk merayakan dan mempererat hubungan antar-keluarga dalam konteks pernikahan.
Dengan tahapan Allekka’ Bunting ini, pernikahan suku Makassar semakin mengukuhkan hubungan antara kedua keluarga yang akan berbagi kehidupan bersama melalui pernikahan pasangan suami istri.
14. A'matoang
Acara A'matoang merupakan salah satu tahap terakhir dalam prosesi pernikahan suku Makassar. Ini sering disebut sebagai acara penutup pernikahan. Pada tahap ini, biasanya dilakukan serangkaian upacara dan perayaan sebagai tanda kesuksesan pernikahan.
Upacara ini dapat mencakup pengantaran mempelai wanita oleh keluarga mempelai pria ke rumah baru mereka. Ini juga bisa menjadi momen untuk merayakan kebahagiaan bersama teman dan keluarga serta melanjutkan tradisi dan budaya suku Makassar dalam pernikahan.
Demikianlah tahapan lengkap dari prosesi pernikahan suku Makassar di Karaengta Kota Baubau. Semoga penjelasan ini membantu Anda memahami lebih jelas bagaimana prosesi pernikahan diadakan berdasarkan adat Makassar.
15. Perayaan Pernikahan
- Setelah tahapan A'matoang, pasangan suami istri biasanya melanjutkan dengan perayaan pernikahan yang lebih besar bersama keluarga dan tamu undangan.
- Perayaan pernikahan ini bisa berlangsung selama beberapa hari dan sangat berwarna. Ini adalah momen di mana kedua keluarga bersatu untuk merayakan persatuan pasangan suami istri yang baru menikah.
- Dalam perayaan ini, terdapat berbagai acara seperti pesta makan malam, tarian tradisional, musik, dan berbagai hiburan lainnya.
- Keluarga dan teman-teman dekat biasanya turut serta dalam perayaan ini untuk merayakan kebahagiaan pasangan baru.
Setelah perayaan pernikahan yang lebih besar ini, pasangan biasanya akan memulai kehidupan mereka sebagai suami istri dan memulai perjalanan kehidupan baru bersama-sama. Semua tahapan ini mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi suku Makassar dalam pernikahan mereka.
Menurut penulis, Adapun secara rinci tiap tahapan prosesi di atas akan dijelaskan pada tahap berikutnya, namun jika ada yang kurang atau lebih mohon koreksi, saran dan masukan.
Penulis : Asbar Bilu


Posting Komentar